Total Tayangan Halaman

Rabu, 25 November 2009

Sekilas Sejarah Munthe

Marga Munthe unik bila dibanding dengan nama keluarga lainnya. Pasalnya Munthe digunakan oleh berbagai suku, daerah, wilayah, atau kumpulan penduduk yang mendiami tanah sekitar danau Toba. Meliputi, Tongging Sipituhuta, Tanah Karo Simalem, Dolok Sanggul, Toba, Mandailing dan Angkola, Labuhan Batu, Simalungun, Gayo Luas dan Alas, Pakpak Dairi. Dan kabarnya, Munthe ada juga mengelompok di daerah tertentu pulau Sulawesi Irian.Di Sulawesi mereka menyebut Muntu dan desanya dinamai Desa Munte.

Uniknya Lagi Munthe Itu. Sudah digunakan oleh 12 orang diantara tahun 1000-1499 .Tertua bernama Ascricus van Munte (1072 – …) tinggal di Vlanderen wilayah Belgia sekarang.

Di Norwegia, keturunan Ludvig Munthe (1593-1649) disusun rapi silsilahnya oleh Severre Munthe, dalam buku Familiem Munthe In Norge. Kini (1995) jumlah keturunannya lima ratus lebih. Munthe Norwegia menyatakan bahwa Vlanderen adalah tanah asal leluhur mereka. Tampaknya, penghargaan kepada leluhur tertua itu maka web side dinamai http://www.geocities.com/-ascricus/genealogy/surnames.htm

Sitor Situmorang pada buku Toba Na Sae menulis”…terutama Barus yang sejak abad dini (sejak kira-kira abad 5) sudah disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan kamper (Kapur barus).” Pelabuhan Barus memang merupakan pintu satu satunya wilayah barat Sumatera Utara.

Penulis yang sama dalam bukunya Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom mengemukakan bahwa Barus telah dicatat sebagai berikut:
1. Tahun 150 oleh sarjana Ptolemaeus di Aleksandria (Mesirsekarang).
2. Tahun 692 oleh I-tsing.
3. Tahun 846 oleh Ibnu Chordhadhbeh.
4. Tahun 851 oleh Raja Sulaiman.
5. Tahun 1088 ada pemukiman Bangsa Tamil.
6. Tahun 1292 oleh Marco Polo.

Di Jakarta (1971). Kapten J. Munthe, Mayor David Munthe, Joahan Munthe, Karel Munthe,Tumbungan Munthe, John Munthe, Banuara Munthe, M. Situmorang, Hasugihan dan Polisten Munthe. Sepakat membentuk Pungguan Munthe.

Januari 2001 di Kantor Kejaksaan Kebayoran dan sepakat membentuk FORUM KOMUNIKASI MARGA MUNTHE INDONESIA ( FKMMI). Terdiri dari,
1. Marga Munthe dari Tongging Sipituhuta,
2. Marga Ginting Munthe dari Puak Karo,
3. Marga Munthedari Dolok Sanggul,
4. Marga Munthe dari Puak Toba,
5. Marga Dalimunthe dari Mandailing dan Angkola,
6. Marga Dalimunthe dari daerah Labuhan Batu,
7. Marga Saragih Munthe dari Puak Simalungun,
8. Marga Munthe dari Gayo Luas dan Alas,
9. Marga Munthe dari Puak Pakpak Dairi,
beserta anakberu masing-masing. Diresmikan pendiriannya pada tanggal 8 April 2001 di Gedung Sejahtera Jakarta.

Groups “sadamunthe” di INTERNET Dipasang Maret 2003 dengan alamat : http://www.groups.yahoo.com/sadamunthe tampilannya sudah memadai dan diharapkan keluarga muda “Munthe” dan generasi muda “Munthe”menggunakan media ini, sebagai sumbang saran, tempat menyimpan file “Munthe” dan file FKMMI.

Desa Ajinembah, Banyak Disebut Berkaitan Dengan “Munthe”. “Disanalah ia menjadi orang sakti yang menguasai segala persinumbahan (ilmu –ilmu gaib dan Oppung Jelak Karo menamakan tempat itu Aji Nembah pertapaan sakti dan keramat) dan ahirnya disanalah ia menetap dan membuka huta yang dia namakan Huta Aji Nembah”.

Tn Sipinangsori (1395-1435) Berasal dari Ajinembah Karo landen, anak Jelak Karo, tiba di Raya Simbolon sekitar tahun 1428 menunggang horbo Sinanggalutu (Versi FKMMI Puak Simalungun. Buku Kenangan Marga Munthe, hal. 81,83, 95) Seorang Dalimunthe cerita. Bahwa leluhurnya zaman duhulu kala takkala sampai di daerah Labuhan Batu membawa bibit semacam kacang yang disebut “dali”. Kacang ditanam dan panen pada waktunya.Ternyata para tetangga suka akan kacang tersebut. Dan para tetangga menyebut kan “Tolong ambilkan (mungkin barter) kacang “dali-Munthe” “. Begitulah penyatuan kata terus menerus dan menjadi sapaan bersahabat, “Dalimunthe.”Munthe lah leluhur kami” kata penutur cerita menutup ceritanya.. “Dalimunthe kami ini, turunan dari penunggang kerbo Nengga Lutu dari Ajinembah” kata Ketua FKMMI wilayah/daerah Padanglawas. Seorang Saragih Munthe cerita Lagi. “Tolong dalam menuliskan nama saya, ada “Saragih” nya” katanya tegas namun senyum. “Pasalnya, leluhur kami dahulu kala tak boleh punya tanah di Raya kalau tidak menuliskan “Saragih” sebelum Munthe” lanjutnya sambil tersenyum simpul. “Dan leluhur kamilah penunggang “Kerbo Nenggala Lutu” dari Ajinembah itu” timpal seorang Saragih Munthe lainnya yang duduk disampingnya.
“Menurut nenek kami (Oppung) bahwa Marga Munthe yang ada di Pengambatan berasal dari Aji Nembah (Kabupaten Karo)” kata Ketua FKMMI Sipituhuta . (Buku Kenangan Marga Munthe, hal. 221)
David Munthe Seorang Anthrofologi. Tinggal di Madagaskar asal Norwegia. Mengunjungi Kuta Ajinembah, diantar oleh Pengurus Nomensen dan diterima oleh Pendeta Pantekosta Ajinembah (1971). David mengemukakan bahwa leluhurnya berasal dari Ajinembah . Dia tahu rumah sendi, dan mengatakan “putih” dalam bahasa ibunya dengan “Mbulan”. (Penutur, penduduk Ajinembah, 2001).
Jadi, mungkin saja terjadi, seorang Munthe petualang naik ke kapal dan kemudian turun pada suatu daerah pelabuhan, kemudian menetap pada suatu daerah tertentu. Tampaknya pelabuhan Barus punya peran. Peran memberangkatkan atau menerima pendatang baru yang kemudian menetap.

Gimut, Jakarta 04082009

Sejarah
Tags: munte, munthe, Sejarah, sejarah munthe

Lihat Juga :
1. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2010/02/munthe-overview-written-by.html
2. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/asal-marga-munthe.html

Sejarah Marga Saragih Dari Sudut Pandang Suku Simalungun

     Kali ini saya coba membahas tentang marga Saragih yang banyak mendiami Tanah Simalungun bahkan bisa dikatakan merekalah salah satu penduduk asli Tanah Simalungun.

     Saat ini banyak berkembang mengenai sejarah marga ini yang selalu digencarkan oleh pihak Toba bahwa marga Saragih ini adalah hasil diaspora dari keturunan Saragi Tua anak dari Raja Nai Ambaton,namun saya tidak sepaham dengan sejarah yang menurut saya rekaan pihak Toba namun hanya merupakan kebetulan sama nama aja antara Saragi anaknya Raja Nai Ambaton dengan Saragih yang berada di Simalungun yang diyakini berasal India atau sekisaran Kerajaan Nagore tempo dahulu.

     Adapun Raja Nai Ambaton bukanlah raja yang seperti kita bayangkan selama ini bahwa ia mempunyai kerajaan, kekuasaan yang luas dan rakyat tapi Raja Nai Ambaton hanyalah sebutan raja alias kepala kampungnya saja seperti halnya Raja Silahisabungan dan juga Raja Sisingamaraja karena rakyat Toba tidak pernah mengenal sistem tertata feodalisme seperti yang dijalankan oleh Raja-Raja di Simalungun yang benar-benar sebuah Kerajaan pada arti sebenarnya.

     Alkisah seorang keturunan Raja Saragih di Simalungun masuk hutan untuk berburu hewan buruan, si Saragih ini ditemani berburu dengan Harimau kesayangannya, keasyikan berburu tanpa ia sadari bahwa ia sebenarnya sudah jauh meninggalkan tanah Simalungun dan berada di Tanah Toba. Rupanya ia tersesat di daerah yang baru pertama kali datangi tersebut.

     Tinggallah ia di sana dan menikahi gadis boru Toba kemudian beranak ia dan menghasil anak-anak yang kemudian akan menurunkan marga Simarmata, Turnip, Manihuruk, Sitanggang dsb..

     Ketika usianya semakin tua, rindulah si Saragih ini pada kampung halamannya di Simalungun, ia pun berniat untuk kembali, sebelum ia berangkat balik ke Simalungun ia berpesan kepada anak dan cucunya bahwa mereka wajib untuk kembali ke Tanah Simalungun karena aslinya leluhur dan tanah mereka adalah di Simalungun bukan di Toba.

     Makanya mengapa banyak marga-marga yang katanya tergabung dalam “Parna” tsb selalu digerakkan untuk kembali ke Simalungun dibandingkan dengan marga-marga Toba lainnya.Ini dikarena bahwa Simalungunlah tanah leluhur mereka.

     Kita bisa mengambil contoh dari marga Simarmata yang lebih banyak bersembunyi dibalik marga Saragih yang artinya lebih banyak marga Simarmata yang di Simalungun ketimbang dengan Simarmata yang berada di Toba.

     Ini hanyalah mengisahkan ulang sejarah marga Saragih dari sudut pandang Sejarah Marga Saragih Simalungun, jika ada yang terganggu dengan kisah sejarah ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Diatei Tupa

Senin, 23 November 2009

SIAPAKAH YANG DISEBUT SEBAGAI ORANG SIMALUNGUN ?

Apakah Anda merasa sebagai orang Simalungun?

Seminar Kebudayaan Simalungun se-Indonesia (Pertama) pada tahun 1964 merumuskan bahwa :"Marga Simalungun ialah mereka yang merasa dirinya Simalungun dan melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidupnya". Jadi, sekalipun kita menyandang marga Simalungun sejak lahir sampai mati, itu tidak membuktikan bahwa kita adalah orang Simalungun.
Tetapi, bagaimanakah kebiasaan hidup orang Simalungun itu?
Saya merasa tidak ada seorangpun dari kita yang bisa menjawabnya dengan tepat.
Seorang mahasiswa Antropologi bisa saja menyusun kerangka etnografi sebagaimana yang dia peroleh dari bangku kuliah. Akan tetapi bila kerangka etnografi itu yang dijadikan jawaban untuk pertanyaan tersebut, maka saya atau mungkin juga Anda akan menentang. Sebab, dalam kerangka etnografi itu akan ditemukan kalimat yang kurang lebih berbunyi seperti ini:
"Masyarakat suku Simalungun tinggal di rumah-rumah besar yang disebut "jabu" dan setiap rumah dihuni oleh setidak-tidaknya empat keluarga...." dan "....sejalan dengan agama "Sipelebegu" yang mereka anut, pada malam bulan purnama masyarakat suku Simalungun biasanya kerap mengadakan upacara-upacara keagamaan berupa pemberian sesajen kepada batu-batu besar atau pohon-pohon besar, sebagai penghormatan kepada roh-roh gaib penguasa alam semesta yang mereka yakini tinggal di batu-batu dan pohon-pohon besar tersebut...."
Saya tidak tinggal di rumah seperti itu. Bahkan Ompung saya pun tidak sempat merasakan hal itu. Saya juga tidak pernah melihat apalagi melakukan upacara-upacara penyembahan batu-batu besar atau pohon-pohon besar seperti itu. Saya yakin Anda juga tidak.
Nah, apakah si-mahasiswa yang menyusun kerangka etnografi tersebut berhak mengatakan saya bukan orang Simalungun? Saya rasa jawaban kita sama. Tidak! Akan tetapi kalau kita mengatakan diri kita orang Simalungun, sekalipun kita tidak melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidup kita, itu berarti kita meremehkan orang-orang tua suku Simalungun yang ikut serta dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1964 itu. Itu adalah dosa, tidak menghormati orang tua.

Lalu bagaimana?
Mungkin Anda akan mengatakan: "Memangnya apa untungnya jadi orang Simalungun? " Bila Anda mengatakan seperti itu, sementara Anda tahu bahwa sebenarnya Anda sendiri atau salah satu orang tua atau kakek/nenek Anda berasal dari daerah Simalungun, saya rasa Anda kurang benar juga. Karena dengan begitu Anda telah memutuskan secara sepihak hubungan Anda dengan sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan Anda yang tinggal di daerah Simalungun, sementara mereka masih menganggap Anda sebagai bagian dari diri mereka dan bahkan mungkin beberapa diantara mereka seringkali memimpikan Anda pulang untuk membantu mereka keluar dari keterbelakangan mereka.

Bukankah itu suatu penghianatan?
Penghianatan Anda kepada mereka?

Nah, bila Anda punya ide atau apapun yang bisa membantu orang-orang Simalungun, khususnya yang tinggal di daerah Simalungun, untuk meraih kemajuan seperti yang telah Anda rasakan, mari bersama-sama melakukannya. Home page ini terbuka untuk Anda.

Horas! Horas! Horas ma banta haganupan!

MARGA-MARGA SUKU SIMALUNGUN *
________________________________________
Damanik

1. Damanik Barita
2. Damanik Bayu
3. Damanik Gurning
4. Damanik Limbong
5. Damanik Malau
6. Damanik Rampogos
7. Damanik Sarasan
8. Damanik Soula
9. Damanik Tomok
10. Damanik Usang

Saragih

1. Saragih Dajawak
2. Saragih Garingging
3. Saragih Munthe
4. Saragih Sidauruk
5. Saragih Simanihuruk
6. Saragih Simarmata
7. Saragih Sitanggang
8. Saragih Sitio
9. Saragih Sumbayak

Purba

1. Purba Girsang
2. Purba Pakpak
3. Purba Siboro
4. Purba Sidadolog
5. Purba Sidagambir
6. Purba Sidasuha (Dasuha?)
7. Purba Sigumonrong
8. Purba Tambak
9. Purba Tambun Saribu
10. Purba Tanjung
11. Purba Tondang

Sinaga

1. Sinaga Dahihoyong Bodat
2. Sinaga Dahihoyong Hataran
3. Sinaga Sidahalogan
4. Sinaga Sidahapintu
5. Sinaga Sidasuhut
6. Sinaga Sihaloho
7. Sinaga Simaibun (Simaibung?)
8. Sinaga Simandalahi
9. Sinaga Simanjorang
10. Sinaga Sipayung
11. Sinaga Sitopu

Sistem Kekerabatan
________________________________________

Tolu Sahundulan, Lima Sadalanan

Sistem kekerabatan suku Simalungun bertolak dari azas TOLU SAHUNDULAN, LIMA SADALANAN, PITU SAODORAN. Azas yang sama (diketahui) juga terdapat pada sub-suku bangsa Batak lainnya (Karo, Mandailing, Pakpak dan Toba), hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Pada suku Batak Toba misalnya, disebut sebagai DALIHAN NA TOLU.

Azas TOLU SAHUNDULAN ini menempatkan seseorang, secara pasti sejak lahir sampai akhirnya meninggal dunia, memiliki tiga kemungkinan posisi dalam berinteraksi baik dengan individu maupun dengan sekelompok orang. Ada saatnya dibawah dalam arti harus lebih menghormati pihak (individu maupun kelompok) lawan bicara, ada saatnya sejajar dalam arti tidak perlu menganggap lawan interaksi sebagai pihak yang harus lebih dihormati tetapi cukup menganggap sebagai teman sebaya, dan ada pula saatnya diatas dalam arti menganggap diri sebagai orang yang selayaknya lebih dihormati. Pemposisian diri ini didasarkan pada penggolongan terhadap pihak lawan interaksi ke dalam tiga kelompok. Kelompok dimaksud adalah: (1)Tondong, yakni kelompok orang-orang yang posisinya di atas; (2)Sanina, yakni kelompok orang-orang yang posisinya sejajar; dan (3)Boru, yakni kelompok orang-orang yang posisinya di bawah.

Azas ini, setidaknya hingga saat ini, masih dijunjung tinggi sehingga pemposisian diri itu tidak terbatas hanya pada saat berinteraksi dengan anggota masyarakat suku Simalungun saja. Tetapi juga dengan individu lain diluar suku Simalungun, sejauh masih terdapat hubungan kekerabatan. Misalnya saja, melalui perkawinan antara salah satu anggota keluarganya dengan orang dari luar suku Simalungun.

Jadi, seseorang harus lebih menghormati pihak lawan interaksi bila berhadapan dengan kelompok Tondong, bersikap sebagai teman sebaya bila berinteraksi dengan Sanina dan pada saat berinteraksi dengan Boru, seseorang berada pada posisi di atasboleh menganggap diri sebagai orang yang harus lebih dihormati.

Meskipun boleh menganggap diri sebagai orang yang harus dihormati bila berinteraksi dengan Boru, itu tidak berarti boleh merendahkannya baik dalam sikap maupun perkataan. Sebab, tidak ada hukum dalam adat yang menyatakan hal itu boleh dilakukan, bahkan aturan adat yang menyatakan secara tegas bahwa posisi seseorang lebih tinggi dari Boru-nya pun tidak ada. Posisi diatas yang didapatkan seseorang dari Boru-nya hanyalah sebuah "anggapan". Suatu anggapan yang muncul karena bagi Boru, seseorang itu dengan sendirinya adalah Tondong atau orang yang harus lebih dihormati.

Seperti halnya tidak adanya aturan adat yang secara tegas menyatakan bahwa posisi Tondong lebih tinggi dari boru, juga tidak ada aturan adat yang secara tegas menyatakan bahwa merendahkan boru sebagai suatu pelanggaran. Namun seseorang yang sering bersikap merendahkan Boru-nya, pasti akan mendapatkan ganjaran. Yakni pada saat seseorang itu melangsungkan suatu acara adat. Sebab pada saat itu, Boru akan sangat berperan. Pekerja utama dalam suatu acara adat seperti menyiapkan makanan, menyiapkan tempat menyelenggaraan acara dan pekerjaan- pekerjaan "kasar" lainnya adalah tugas pihak Boru. Bila pihak Boru sebelumnya selalu direndahkan, bagaimana mungkin mengharapkan mereka bekerja dengan baik? Dan, tidak ada satu pun acara adat yang tidak melibatkan Boru. Dengan perkataan lain, tanpa adanya Boru, acara adat tidak akan pernah bisa dilaksanakan.

Salam Ibagas Habonaron Do Bona Horas……… Horas……………
Horas………

Lihat Juga Link :

1. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sejarah-simalungun.html 
2. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun.html 
3. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun_18.html
4. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/siapakah-yang-disebut-sebagai-orang.html
5. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/05/kerajaan-purba.html
6. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/09/musik-tradisional-simalungun.html
7. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/marga-marga-simalungun.html
8. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-purba.html
9. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/sinaga.html
10. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/damanik.html
11. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-sipayung.html
12. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/identitas-simalungun-dari-persaudaraan.html
13. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/tarombo-marga-sipayung.html
14. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/benarkah-marga-girsang-bukan-cabang.html
15. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun.html
16. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/04/patunggung-simalungun.html 

Acara Natal DPK HIMAPSI UNIMED Tahun 2009

Horas .............

Ijon hanami roh mangundang nassiam haganupan Sanina, Botou nami haganupan
Ase roh ma nassiam mandihuti acara Natal
DPK HIMAPSI UNIMED ai ma na iadongkon
bani panorang :
Ari/Tanggal : Kamis, 17 Desember 2009
Ianan : GKPS PARDAMEAN MEDAN
Waktu : 18.00 wib – Salosei

Arap uhur nami bani parroh nassiam mandihuti acara Natal ta ai.

Anggolang hita na malaksanahon Natal taai ise nari ?

Salam Ibagas Habonaron Do Bona Horas……… Horas……………Horas………

DPK HIMAPSI UNIMED
Sie Humas
Dearmawanto Saragih
Cp: 081 397 773 664

Kamis, 19 November 2009

Dolok Saribu Dari Saribu Dolok

Setelah menginjakkan kaki di kota Jakarta, Duga bermaksud mendapatkan teman sebanyak-banyaknya. Maklum Duga belum fasih berbahasa Indonesia.

Menurutnya semua perkataan dalam bahasa Batak harus diterjemahkan ke bahasa Indonesia termasuk identitas diri.

Sambil bersalaman lalu dia memperkenalkan diri dan berkata: "Gunung Seribu dari Seribu Gunung". Sejak itu para sahabatnya pada takut dan segan, mereka menganggap Dolok Seribu bersaudara dengan gunung Kidul.
Sent by: Pahala Simanjuntak on Sep 10th, 2008 Rating: 3.16 (19 votes) AddThis

Bingung dengan Ajaran Guru

Seorang ibu bertanya pada anaknya yang tidak mau lagi pergi ke sekolah:

Ibu : "Nak, mengapa kamu tidak mau lagi pergi ke sekolah?"

Anak : "Habis saya bingung, bu guru cara mengajarkan berhitung ganti-ganti terus."

Ibu : "Ganti-ganti bagaimana?"

Anak : "Ya, dua hari lalu ibu guru bilang enam adalah tiga ditambah tiga, kemarin enam adalah empat ditambah dua, eh sekarang katanya enam adalah lima ditambah satu, bingung kan saya."

Ibu : "?????!!!"
Sent by: e-ketawa on Nov 17th, 2009 | Rate it and send to friend

Sambungan Sejarah Simalungun

serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti Singasari, Majapahit, Rajendra Chola (India) dan dari Sultan Aceh, Sultan-sultan Melayu hingga Belanda.
Selama periode ini, tersebutlah cerita "Hattu ni Sapar" yang melukiskan kengerian keadaan saat itu di mana kekacauan diikuti oleh merajalelanya penyakit kolera hingga mereka menyeberangi "Laut Tawar" (sebutan untuk Danau Toba) untuk mengungsi ke pulau yang dinamakan Samosir yang merupakan kependekan dari Sahali Misir (bahasa Simalungun, artinya sekali pergi).
Saat pengungsi ini kembali ke tanah asalnya (huta hasusuran), mereka menemukan daerah Nagur yang sepi, sehingga dinamakanlah daerah kekuasaan kerajaan Nagur itu sebagai Sima-sima ni Lungun, bahasa Simalungun untuk daerah yang sepi, dan lama kelamaan menjadi Simalungun. (M.D Purba, 1997)Kehidupan masyarakat Simalungun Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan jagung,karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi.
Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda.
Di Tapanuli sudah berdiri sekolah-sekolah, rumah sakit, dan sekolah-sekolah keterampilan lainnya sehingga sistem kehidupan Tapanuli lebih maju.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita.

Diatei tupa
Horas............

Lihat Juga Link :

1. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sejarah-simalungun.html 
2. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun.html 
3. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun_18.html
4. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/siapakah-yang-disebut-sebagai-orang.html
5. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/05/kerajaan-purba.html
6. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/09/musik-tradisional-simalungun.html
7. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/marga-marga-simalungun.html
8. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-purba.html
9. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/sinaga.html
10. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/damanik.html
11. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-sipayung.html
12. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/identitas-simalungun-dari-persaudaraan.html
13. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/tarombo-marga-sipayung.html
14. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/benarkah-marga-girsang-bukan-cabang.html
15. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun.html
16. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/04/patunggung-simalungun.html