Total Tayangan Halaman

Jumat, 30 Maret 2012

TANAMAN OBAT



Bunga Raya

Oleh : M Muhar Omtatok

 Bunga Raya (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak suku Malvaceae dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan sub tropis. Bunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu. Bunga okultisme halak Simalungun ini, telah ditetapkan sebagai bunga nasional Malaysia pada tanggal 28 Juli 1960.
    Bunga Raya banyak dijadikan tanaman hias karena bunganya yang cantik. Bunga digunakan untuk menyemir sepatu di India dan sebagai bunga persembahan. Di China, bunga yang berwarna merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan.
Di masyarakat Simalungun, daun, akar dan bunga digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional, pelengkap adat dan sesembahan. Bunga Raya yang dikeringkan juga diminum layaknya teh. Untuk panganan tradisi, orang Simalungun menjadikan Bunga raya untuk berbagai fungsi, diantaranya sebagai garnish yang sekaligus bisa dimakan, seperti pada nitak , juga dayok nabinatur atau Gulei namarbunga-bunga.

Bunga Raya sebagai Tambar
Rasa manis, netral dan berlendir. Bunganya mengandung hibiscetin, sedangkan batang dan daunnya mengandung kalsium oksalat, peroksidase, lemak, dan protein. Berkhasiat mengobati bronchitis, gonorhoea (kencing nanah), haid tidak teratur, obat sakit panas, demam pada anak-anak, sariawan, batuk, gondok, infeksi saluran kencing dan sakit kepala.
  • Ramuan untuk bronchitis: cuci dua kuntum Bunga Raya, lalu tumbuk sampai halus. Beri 3/4 gelar air masak dan sedikit garam. Aduk ramuan tersebut hingga merata, lalu peras dan saring. Minum dua kali sehari. Atau bisa juga dengan ramuan, rebus 2-3 kuntum Bunga Raya  dengan 2 gelar air sekira 15 menit, kemudian saring. Air rebusan yang telah disaring diminum dua kali sehari.
  • Ramuan untuk kencing nanah: cuci enam kuntum Bunga Raya, rebus dengan tiga gelas air hingga airnya tersisa 3/4 gelas. Setelah itu, saring dan didiamkan (diembunkan) selama satu malam. Minum dengan madu tiga kali sehari sebanyak 1/2 gelas.
  • Ramuan untuk haid tidak teratur: cuci tiga kuntum Bunga Raya lalu giling hingga halus. Tambahkan satu gelas air masak dan sedikit cuka (dulu orang Simalungun menggunakan cuka dari fermentasi beras atau pulut hitam). Selanjutnya peras dan saring. Minum 2-3 kali sehari sebanyak 1/2 gelas.
  • Ramuan untuk sakit panas: tumbuk akar Bunga Raya secukupnya hingga halus, rebus dengan tiga gelas air mendidih sekira 30 menit, lalu saring. Air rebusan diminum tiga kali sehari sebanyak satu gelas.
  • Ramuan untuk demam pada anak-anak: lumatkan daun segar secukupnya dengan sedikit air. Lumurkan di seluruh badan 2-3 kali sehari.
  • Ramuan untuk sariawan dan batuk, rebus daun secukupnya dalam tiga gelas air mendidih selama 15 menit, lalu saring. Air rebusan diminum tiga kali sehari.
  • Ramuan untuk gondok: siapkan akar secukupnya dan air secukupnya. Akar diserbukkan dan direbus dalam air mendidih selama 1/2 jam. Kompreskan pada bagian yang sakit 2-3 kali sehari.
  • Ramuan untuk sakit kepala, serbuk daun kembang sepatu direbus selama 1/2 jam dan dikompreskan pada dahi

Nb
Bedakan bunga raya sebagai fungsi tanaman obat dan pelengkap ritual adat. Jenis terakhir adalah pelengkap ritual adat. Kembang Sepatu, itu adalah nama lain dari Bunga Raya yang biasa disebut masyarakat di pulau Jawa.


sumber: http://simalungunonline.com/bunga-raya.html

Sungkit – Tumbuhan Unik Berkhasiat Obat

    Alkisah dari turi-turian Bah Tobu, sebuah sungai yang mengalir di wilayah Simalungun menuju pesisir timur. Tiga orang marsanina melakukan perjalanan menuju Sinumbah (tempat keramat) guna mengikuti ritualPahutahon, yang kelak berujung di tempat yang kini disebut Keramat Kubah.
    Dalam turi-turian tersebut, dikisahkan ketika di tengah perjalanan ketiga bersaudara tersebut berhenti di tepi sebuah sungai yang banyak ditumbuhi Pohon Sungkit (diucapkan: ‘Sukkit). Karena perjalanan dari sekitar pesisir  yang cukup meletihkan dan membuat perut lapar, mereka mencoba mencari bahan panganan yang ada disekitar tepi sungai tersebut.
    Namun sayang, mereka tidak menemukan makanan yang bisa mengganjal perut. Seketika mereka memperhatikan pohon sungkit yang mirip cikal kelapa, berbunga kuning dan terdapat buah-buah kecil di dasar batang pohon jenis palem tersebut.
    Tanpa berfikir panjang, mereka segera memetik buah-buah pohon sungkit disekitar sungai itu, sambil memakan buah yang berasa seperti papermint tersebut. Meski mereka belum mengenal tumbuhan sungkit sebelumnya, namun dikarenakan perut yang semakin lapar, mereka yakin bahwa sungkit bisa mengganjal perut untuk bisa menambah tenaga karena trio bersaudara itu masih harus melanjutkan pengembaraan keilmuan lagi.
    Setelah merasa cukup menyantap buah-buah dari pohon sungkit tersebut, mereka segera menuju sungai untuk minum. Namun sebuah kejadian aneh terjadi, mereka merasakan air yang diteguk dari aliran sungai tersebut, terasa manis. Tidak seperti sungai-sungai yang lain, air yang terasa tawar.
    Karena menikmati air yang terasa manis tanpa dibubuhi gula tersebut, mereka mengatakan bahwa ini adalah‘Bah Tobu’ – ‘Sungai Manis’. Entah penasaran atau memang kehausan, salah seorang dari tiga bersaudara itu meminum air sungai yang manis tersebut dengan sangat berlebihan, dan dikisahkan ia lemas dan tiada lagi sanggup melanjutkan perjalanan. Hingga perjalanan dilanjutkan oleh dua bersaudara saja hingga ke sebuah tempat ‘sinumbah’ yang kini disebut Keramat Kubah.
Tumbuhan Sungkit

    Jika mengingat turi-turian diatas, dapat kita perkirakan bahwa tanaman sungkin sudah lama dikenal bagi masyarakat Simalungun. Dalam turi-turian tentang air Bah Tobu yang terasa manis, sebenarnya bukanlah sebuah kejadian aneh jika dikaji dari kandungan buah sungkit tersebut.
    Buah Sungkit bisa mengubah rasa menjadi manis karena mengandung protein yang disebut Curculin. Protein ini bisa tahan di mulut sampai setengah jam sebelum akhirnya rasa manisnya menghilang. Ekstrak dari buah Sungkit derajat kemanisannya setara dengan 350.000 sukrosa dan memiliki kemampuan dalam hal modifikasi rasa. Curculin bisa mengubah rasa tawar dan asam menjadi manis.
    Sungkit  merupakan tanaman yang menyukai keteduhan atau kondisi tanpa sinar matahari langsung, dengan kandungan air yang banyak. Bibit sungkit yang saya bawa dan saya tanam di kediaman saya di Medan, dari lahan liar yang banyak ditumbuhi rotan di wilayah Marubun Kec. Sipispis, nyatanya sungkit tumbuh sangat lambat dan daun yang tertinggal kecil.
Sungkit lebih menyukai tanah yang subur, kaya akan bahan organik. Sungkit terdapat di hutan primer dan sekunder dengan ketinggian mencapai 2000 m dan di hutan hujan dengan ketinggian mencapai 1100 m.
    Perbanyakan sungkit  dengan tunas batang bawah disekitar akar atau dengan pembiakkan biji yang masak dan segar. Sungkit menghasilkan banyak tunas batang bawah disekitar akar , yang dapat dipindah dan mudah tumbuh menjadi tanaman baru.
Pada masyarakat Simalungun, tumbuhan sungkit banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan, misalnya dibuat menjadi jaring ikan, tali, serta benang.  Di samping itu, daun sungkit dipergunakan juga untuk pembungus, seperti membungkus kue saat dikukus, garam maupun daging.
    Buah sungkit gemuk dan lancip seperti kuntum melati. Ukurannya sedikit lebih besar dari biji kacang tanah. Kulit buah tampak berbulu-bulu halus seperti beludru, berwarna putih keabuan. Daging buahnya putih. Biji-biji hitam di dalam buah membuat daging buah menjadi tampak berbintik-bintik.
Meskipun manisnya tidak terlalu ekstrim, tetapi buahnya menghasilkan rasa sangat manis setelahnya ketika minum setelah memakan buah ini. Ini juga terjadi ketika substansi asam dirasakan setelah memakan buah tersebut, sehingga masyarakat Simalungun dulu memakan buah ini untuk memberikan rasa manis ke makanan asam.
    Tumbuhan sungkit memiliki batang yang pendek dengan daun sejajar, tumbuh berumpun, bunga bermahkota kuning yang setiap bunga memiliki enam kelopak, disana pula buahnya ditemukan bergerombol putih dengan bijinya yang hitam. Merupakan herba tahunan dengan tinggi hingga 1 m, dengan akar rimpang tebal.

Tumbuhan Sungkit Sebagai Tambar
    Daun, ujung batang dan akar sungkit digunakan untuk mengobati demam. Rebusan bunga dan akar sebagai obat sakit perut dan diuretic yaitu yang bekerja pada ginjal untuk meningkatkan ekskresi air dan natrium klorida, sementara itu rebusan akar rimpangnya digunakan untuk mengobati pengeluaran darah haid yang terlalu banyak dan juga yang berhubungan dengan kram selama haid dan digunakan pula sebagai tambar untuk sejenis peradangan pada kedua mata . Buah sungkit bagi masyarakat Simalungun dahulu, juga dipercaya bisa mengurangi panas dalam dan sakit kepala.Tumbuhan sungkit dalam dunia hadatuon Simalungun, dipergunakan juga sebagai salah satu bahan pengobatan mistis.
Masih dalam tradisi kesimalungunan, Daun sungkit digunakan sebagai bahan campuran mandi bagi wanita yang baru melahirkan. Disisi lain, karena buah sungkit memiliki kandungan protein curculin yang bisa menimbulkan efek manis, menurut saya ini cocok bagi penderita diabetus mellitus sebagai pengganti gula.
Masih dari khazanah partambaran Simalungun, Bahagian akarnya berfungsi untuk mengobati sakit ginjal, menguatkan fungsi seks, dan sebagai bahan kumur. Beberapa keluhan pembengkakan juga mempergunakan tumbuhan sungkit ini.
 

Sumber: http://simalungunonline.com/sungkit-%E2%80%93-tumbuhan-unik-berkhasiat-obat.html

Lihat Juga Link di bawah ini:

1. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/tanaman-obat.html

TERBENTUKNYA KAMPUNG GIRSANG SIPANGANBOLON

    Horas sanina Kebetulan saya marga girsang mungkin sedikit penuturan tentang marga girsang Sbb..ada pun asal usul marga kami datang nya dari pak-pak tepat nya di bukit lehu. nama oppung kami itu di kenal datu raja parulas atw biasa di sebut raja par ultop-ultop. yang mana akhir nya dia masuk ke simalungun -tepat nya nagasaribu. dan di naga saribu mendirikan kerajaan yaitu kerajaan silimakuta yang mana pusat atw pematang nya ada di nagasaribuada pun sub marga girsang sbb :girsang jabu bolon yang menjadi rajagirsang na godang ( tuan anggi )girsang parharagirsang rumah parikgirsang bona gondangdan masih ada lagi sub sub marga dari girsang ini cuma saya takut salah2 urutan nya seperti girsang silangit yng menjadi tarigan silangit atw purba silangitgirsang rumah jojonggirsang rumah horbodan ada sampe 10 tapi saya lupananti saya minta dulu ma bapak saya yah..muda2 an berguna bagi2 kita-kita yang memerlukan silsah marga nya Horas… Habonaron do Bona.
    Walaupun secara resmi diakui bahwa Girsang berasal dari Lehu-Pakpak Dairi bahkan ada mempunyai Tugu Girsang di sana namun Girsang lebih dikenal sebagai bagian dari Simalungun dan Karo yaitu Purba Girsang di Simalungun dan Tarigan Gersang di Tanah Karo.

    Seiring dengan makin banyaknya keturunan dari marga Girsang ini maka makin banyak juga pemikiran dari keturunan Girsang saat ini yang menginginkan lepas atau menanggalkan marga di depan mereka yaitu Purba di Simalungun dan Tarigan di Karo. Diceritakan bahwa Girsang bersaudara dengan Parultop yang kemudian berhasil mengalahkan Raja Purba saat itu yang bermarga Purba Dasuha lalu Parultop diangkat menjadi Raja Purba dan bahkan diberi marga Purba dan kemudian membentuk cabang marga Purba Pakpak yang masih eksis saat ini dengan jumlah keturunan yang cukup banyak.

    Girsang yang merupakan adik dari Parultop kemudian menyusul abangnya ke Simalungun dan kemudian beranak pinak di Simalungun dan salah satu keturunannya menjadi menantu dari Raja Sinaga yang berkuasa di Silimakuta. Ketika dalam tekanan lawan dan hampir kalah maka muncullah si menantu bermarga Girsang ini berhasil membunuh hingga seribu orang musuh (asal nama “saribudolok”?) sehingga sesuai janji Raja Sinaga itu untuk menyerahkan kekuasaannya di Silimakuta kepada Girsang untuk menjadi Raja Silimakuta dan Raja Sinaga tersebut kembali ke Tanah Jawa. Makanya tidak heran jika banyak ditemukan banyak orang bermarga Girsang di Silimakuta, termasuk Kela dari Indah juga bermarga Girsang sehingga saya pun dimargakan ke marga Girsang ini sebelum menikahi gadis boru Sipayung itu.Ketika saya dimargakan di Saribudolok itu mmg banyak dari saudara-saudara pemilik marga Girsang itu yang berkali-kali mengingatkan pada saya bahwa saya dimargakan ke Girsang bukan ke Purba Girsang alias sekali Girsang tetaplah Girsang bukan Purba Girsang. Pada perkembangan saat ini semakin banyak yang “mengkhianati” hubungan persaudaraan dalam Harungguan Purba Simalungun yang telah tercipta berabad-abad antara Purba Girsang dan Purba Pakpak dengan Purba Siboro, Purba Sigumonrong, Purba Tambak, Purba Dasuha, Purba Tamsar dan masih banyak Purba Simalungun yang lain.Purba Girsang dan Purba Pakpak dianggap sebagai sanina dari Purba Simalungun lainnya dalam ikatan Harungguan Purba.

    Lucunya jika Girsang kini menyangkali Ke-Purba-an mereka namun Purba Pakpak tetap setia pada Harungguan Purba Simalungun, sedangkan Girsang telah mengambil langkah terlalu jauh dengan menolak menjadi bagian dari Harungguan Purba Simalungun, lalu menolak bagian dari Toga Simamora (dalam hal ini saya juga setuju) dan kemudian menyatakan bahwa Girsang adalah bagian dari Toga Sihombing yang ber-sanina dengan marga Sihombing,Nababan, Silaban dan Hutasoit… Dengan sikap menolak,penyangkalan dan seakan-akan membalas air susu dengan air tuba kepada Harungguan Purba Simalungun nantinya malah akan menjadi bumerang bagi keturunan marga Girsang nantinya karena tentunya ada yang terluka di dalam penyangkalan Girsang kepada Harungguan Purba ini. Perlu rasanya para petinggi, senior atau yang dituakan dalam keluarga besar Girsang perlu duduk bersama dengan para petinggi Harungguan Purba Simalungun untuk membicarakan mau kemana Girsang sekarang ditempatkan..apakah masih mau bersama-sama dalam Harungguan Purba Simalungun atau mau keluar dari Harungguan Purba Simalungun.

sumber :http://sevilla99.wordpress.com/2009/01/28/mau-kemana-girsang/
Benarkah Marga Girsang Bukan Cabang dari Marga Purba?(Artikel berikut dikutip dari Berita Simalungun)
"Kalau bukan sama, berarti perkawinan antara marga Purba dengan Girsang bukan hal yang terlarang menurut adat...!"
( Oleh : Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh )

Pengantar
   Asisten Residen Simalungun dalam karya klasiknya, Simeloengoen menulis bahwa pada dasarnya di Simalungun sejak zaman dahulu kala hanya ada empat marga di Simalungun, yakni marga Sinaga, Saragih, Damanik dan Purba (Sisadapur). Dan memang dari karya-karya klasik penulis-penulis Belanda, baik Tideman maupun Tichelman sebagai pejabat kolonial Belanda selalu menulis Purba Girsang. Yang kita pertanyakan, sejak kapan penulisan dengan "Girsang" tanpa "Purba" itu dimulai? Asumsi saya berdasarkan perbincangan dengan tokoh-tokoh Simalungun dan para orangtua Simalungun, penulisan marga  Girsang tanpa Purba itu masih baru, belum sampai seratus  tahun. Pada waktu penulis bertugas di Sekretariat J-100 di Jakarta dalam rangka penulisan sejarah GKPS tahun 2003 kemarin, penulis berbincang-bincang dengan salah seorang tokoh marga Girsang yang dengan marahnya menolak ucapan saya yang mengatakan Girsang itu merupakan sub sib atau cabang dari marga Purba. Beliau dengan marahnya mengatakan, "Girsang adalah Girsang bukan Purba, kami marga Girsang bukan masuk cabang marga Purba tetapi masuk ke cabang marga Sihombing Lumbantoruan." Dan memang Bapak Brigjend TNI (Purn) Djorali Purba Dasuha sebagai Ketua Umum Harungguan Purba se-Jabotabek menginformasikan kepada penulis bahwa dari 24 cabang marga Purba Simalungun yang mengaku berasal dari Simalungun, marga Girsang akhirnya keluar dari perkumpulan marga Purba Simalungun tersebut karena ngotot tidak mengakui Girsang bercabang dari induk marga Purba Simalungun.
    Berangkat dari persoalan di atas, timbul pertanyaan di kalangan kaum muda - kalau benar marga Girsang bukan masuk Purba, berarti marga "Girsang" itu tidak sama dengan Purba, dan karena menurut mereka, Girsang berketurunan dari marga Sihombing Lumbantoruan berarti Girsang merupakan cabang dari marga etnis Batak Toba. Dan jika memang benar bukan cabang dari marga Purba mengingat Hukum Adat Perkawinan Simalungun hanya melarang perkawinan "nasamorga" berarti, karena Girsang dan Purba merupakan dua margayang berbeda, maka tidak ada larangan lagi menurut adat yang menghalangi perkawianan antara marga Girsang dengan marga Purba, karena yang dilarang menurut adat perkawinan Simalungun adalah kawin semarga karena dianggap masih satu keturunan dari nenek moyang yang sama. Polemik asal marga Girsang Tideman dalam karya, Simelongoen menuliskan, bahwa Si Girsang yang merupakan leluhur dari raja Silimakuta yang menggantikan mertuanya tuan Nagasaribu bermarga Sinaga berasal dari Lehu Sidikalang Pakpak Dairi.
    Dari silsilah raja Silimakuta diperkirakan ketibaan Girsang di Naga Mariah diperhitungkan sekiar pertengahan abad XVIII. Sedang pengangkatan Naga Saribu menjadi kerajaan barulah Sejak tahun 1907 dengan nama Kerajaan Silimakuta. Di sini saya kutip uraian Tideman dalam bukunya Simelongoen  tentang asal-usul raja Silimakuta : "Raja yang pertama berasal dari Lehu(Sidikalang Pakpak Dairi) bernama Si Girsang. Ketika ia berburu sampailah ia ke Tanduk Banua (Sipiso- piso). Di sana tiba-tiba dijumpainya Horbo Jagat (kerbau bulai) dan menyangka di sekitarnya ada kampung. Ia lalu memanjat pohon tinggi dan melihat ada kampung besar merga Sinaga bernama Naga Mariah. Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu ketika Tuhan Naga Mariah. Ia pergi ke sana dan tinggal di situ. Pada suatu ketika, Tuhan Naga Mariah terancam musuh dari Siantar yang sedang berkemah di Paya Siantar dekat kaki Gunung Singgalang. Tuhan Naga Mariah mengharapkan bantuan dari Si Girsang mengusir musuh. Si Girsang menyuruh penduduk mengumpulkan sebanyak mungkin bermacam- macam duri dan diambilnya cendawan merah, diperasnya dalam air, racunnya diletakkannya pada duri-duri dan diletakkan di sepanjang jalan yang bakal dilalui musuh., sedangkan air yang beracun itu dimasukkannya ke dalam Paya Siantar. Musuh oleh karena itu semuanya mati kena racun.Ia melapor kepada Tuhan Naga Mariah dan berkata, "Nunga mate marsinggalang saribu di dolok i!" (beribu-ribu musuh sudah mati bergelimpangan di gunung itu), sehingga gunung itu dinamakan Dolok Singgalang dan namanya Saribu Dolok. Si Girsang lalu kawin dengan puteri dari Tuhan Naga Mariah dan karena ahli mencampur racun dinamai Datu Parulas. Setelah raja itu mati maka Datu Parulas ini naik tahta dan mendirikan kampungnya Naga Saribu yang menjadi ibukota. Kerajaannya dinamainya Si Lima Kuta karena dalam kerajaannya ada lima kampung yaitu: Rakutbesi, Dolok Panribuan, Saribu Djandi, Mardingding dan Nagamariah. Setiap puteranya menjadi tuhan di Rakutbesi, Dolok Panribuan, Saribu Djandi, Mardingding dan Naga Mariah. Kemudian lahir lagi dua putera, yang tertua mendirikan kampung Janji Malasang dan mendirikan kerajaan kecilbenama Bage. Yang bungsu menggantikan Datu Parulas. Baru di tahun 1903 Kerajaan Bage tunduk di bawah Kerajaan Silimakuta."
    Bagaimana dengan Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar? Dari tulisan Tideman tersebut dapat dismpulkan, bahwa Si Girsang tidak diketahu bermarga apa, yang jelas, namanya Si Girsang. Jadi kalau ada kalangan marga Girsang yang mengatakan Girsang bukan cabang dari marga Purba, ini dapat diterima, karena itu adalah hak yang bersangkutan. Namun yang perlu dipertanyakan lagi, menurut Tideman - tentunya ia mencatat informasi dari kalangan raja Silima Kuta - asal dari pemburu Si Girsang dari Lehu di dekat Sidikalang (afkomstig Lehu Pakpak Dairi). Di sana Tideman menulis "afkomstig" = berasal dari, jadi belum tentu "berketurunan" dari penduduk asli Lehu yang Etnis Pakpak,boleh jadi ia hanya singgah di sana dan seterusnya mengembara ke Simalungun. St. Djaidin Girsang dalam tulisannya tentang "Kisah Si Girsang Parultop- ultop Jadi Raja Silimakuta" (Medan, 1995:123-124) menulis (terjemahan bahasa Simalungun dialek Silimakuta), "Konon menurut cerita turun temurun, kelahiran Si Girsang ditengarai masalah di kalangan orang ramai, ini disebabkan kelahiran Si Girsang yang tidak lazim (marbalutan) tidak seperti biasanya. Tanggapan khalayak simpang siur dan masing-masing membuat tanggapannya sendiri, ada yang mengatakan "anak panunda" bayi yang baru lahir ini, ada yang mengatakan anak keramat, ada yang mengatakan anak sial dan lain-lain. Demikianlah tanggapan banyak orang, dan ada lagi yang mengatakan, "tidak patut anak ini dibiarkan hidup....; jadi timbullah usul orang ramai agar bayi tersebut dibunuh agar jangan mendatangkan kesialan pada seisi kampung. Ibu Si Girsang adalah perempuan dari Lottung Sinaga, ia sangat masygul melahirkan Si Girsang, jadi disembunyikanlah Si Girsang di luar kampung agar dapat dipantau ibunya siang dan malam, tidak tega hatinya membiarkan anaknya dibunuh...setelah itu dinamailah ia Si Girsang mengingatpenderitaannya itu." Dari beberapa sumber di atas disimpulkan, bahwa bayi yang disembunyikan oleh ibunya itu berasal dari keluarga biasa (rakyat kebanyakan) karena disebut sebagai "penghuni kampung" (berbeda dengan leluhur raja-raja Simalungun yang seluruhnya berasal dari kalangan bangsawan); uraian Djaidin Girsang juga tidak menyebut Si Girsang berketurunan dari kalangan raja. Biasanya panglima-panglima perang (raja goraha) raja Nagur (kerajaan tertua di Sumatera Timur) yang kemudian menjadi raja di Simalungun adalah kawin dengan panakboru (puteri raja) dari raja Nagur bermarga Damanik, seperti raja Tanoh Djawa (Sinaga), Silou (Purba Tambak), Panei (Purba Dasuha), tetapi Si Girsang tidak demikian. Setelah dewasa menurut uraian St. Djaidin Girsang ia kawin dengan puteri Tuhan Naga Mariah bermarga Sinaga yang kemudian "terusir" dari Naga Mariah dan sebagian keturunannya pindah ke Karo (Batu Karang) dan Girsang Sipangan Bolon Parapat. Ini membuktikan kenyataan sejarah kalau Si Girsang adalah pendatang dari luar Simalungun - dan bukan rakyat Nagur pada mulanya.
    Kerajaan Nagur dengan daerah vasalnya Kerajaan Dolog Silou masih berkuasa atas Purba, Raya dan Nagasaribu, karena status ketiganya adalah "partuanan banggal" Kerajaan Dolog Silou sebelum ditingkatkan menjadi "landschap" pada zaman Belanda sejak 1907 (Korte Verklaring). Jadi kalau dirunut dari jalan sejarah di atas, keberadaan marga Girsang di Silimahuta (kecuali di partuanan Dolog Batu Nanggar-Panei) Simalungun masih baru; sekitar pertengahan abad XVIII. Dan jika dilihat dari penolakan marga Girsang yang tidak mengakui Girsang merupakan cabang marga Purba (khususnya yang berasal dari Silimakuta), cukup menegaskan kenyataan sejarah kalau Si Girsang yang menurunkan marga Girsang di Silimakuta baru sejak zaman Belanda atau tepatnya pada tahun 1907 berstatus kerajaan di Silimakuta dan bukan seketurunan dengan marga Purba Tambak yang menurunkan raja-raja Silou, Panei dan Dolog Batu Nanggar (Purba Tambak, Purba Sigumonrong, Purba Sidasuha, Purba Sidadolog, Purba Sidagambir, Purba Siboro, Purba Tanjung dan Purba Girsang).
   Yang membingungkan lagi dalam Pusataha Parpandanan Na Bolag yang menceritakan sejarah perpecahan Kerajaan Nagur di abad XIV, ada disebut-sebut nama tokoh Si Girsang Doriangin. Demikian pula di sejarah Kerajaan Dolog Silou ada disebut Si Juhar marga Purba Girsang yang menurunkan marga Purba Girsang keturunan Tuan Badja Purba Girsang tuan Dolog Batu Nanggar (Saribulawan). Mengingat marga Girsang di Nagamariah baru ada di pertengahan abad XVIII sedangkan marga Purba Girsang di Dolog Batu Nanggar sudah ada setidaknya di abad XV yang hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Dolog Silou; apakah tidak tertutup kemungkinannya jika Si Girsang yang berangkat dari Lehu menuju Nagamariah adalah cucu buyut dari Tuan Partanja Batu Purba Girsang dari Dolog Batu Nanggar sebagaimana uraian TBA Purba Tambak dalam bukunya Sejarah Simalungun ? Atau alternatif kedua, Si Girsang merupakan  "pendatang baru" yang bukan kerketurunan dari Tuan Dolog Batu Nanggar ? Dugaan penulis makin kuat karena pada saat penulis bertugas di GKPS Resort Sumbul, dalam suatu kesempatan hal ini pernah penulis tanyakan kepada serang pengetua adat Pakpak (pertaki) bermarga Solin, pada saat mana sedang gencar-gencarnya pembangunan Tugu Girsang di Lehu. Beliau menjelaskan kepada penulis, bahwa sepengetahuannya, Girsang itu bukan marga Etnis Pakpak, dan tanah lokasi pembangunan tugu itu sendiri bukan tanah adat marga Pakpak, tetapi tanah adat marga Batanghari dari etnis Pakpak yang dibeli oleh marga Girsang dari Saribudolok. Jadi Girsang bukan "marsanina" dengan Purba?
   Meminjam ungkapan budayawan Simalungun Pak Mansen Purba, SH dalam bukunya "Pangarusion pasal Adat Perkawinan Simalungun" yang mengatakan, "seng dong hinan batta Simalungun, parsaninaon halani nasamorga, tapi halani na sahasusuran do. Age pe dos morga, lape tottu ai na sahasusuran. Aima ase dong panggoranion i pudini morga in, tanda ni na sada hasusuran ope." Jelasnya menurut beliau, di Simalungun "marsanina" bukan karena "satu marga" atau dari marga yang sama, tetapi dilihat dari sejarah asal-usulnya. Kalau dari seketurunan nenek moyang yang sama, maka disebut "marsanina" kalau sebaliknya, biar marganya sama, kalau masing-masing tidak mengakui nenek maoyangnya seketurunan, maka jelas bukan "marsanina". Jadi berdasarkan rumusan ini, maka di antara marga Purba yang dapat disebut 'marsanina" adalah keturunan dari raja-raja Silou dan Panei dengan partuanan-partuanannya, seperti Purba Tambak (raja Dolog Silou), Purba Sigumonrong (Tuan Lokkung), Sidasuha (raja Panei), Sidadolog (Tuan Sinaman), Sidagambir (Tuan Raja i Huta), Tanjung (Tuan Tanjung Purba), Siboro (Tuan Siboro) dan Girsang (Tuan Dolog Batu Nanggar). Karena seluruh cabang marga Purba ini menurut Pustaha Bandar Hanopan berasal dari nenek moyang yang sama Tuan Djigou Purba dari Tambak Bawang yang dating dari Gayo (Aceh) atau dari Pagarruyung.
    Dan kalau raja Silimakuta yang merupakan keturunan dari Si Girsang dari Lehu itu di pertengahan abad ke-18 masuk ke Naga Mariah mengaku bukan bercabang dari marga Purba, kalau demikian ia bukanlah suku Simalungun, karena sejak zaman dahulu suku Simalungun terdiri dari empat cabang marga saja, yakni Sinaga Saragih, Damanik dan Purba. Dan memang baik Tuan Dolog Batu Nanggar bermarga Purba Girsang dan saninanya raja Panei bermarga Purba Dasuha masing-masing mengambil permaisuri dari puteri raja Siantar bermarga Damanik, sementara kita lihat di Silimakuta permaisuri Silimakuta bukan dari Siantar, tetapi dari Tongging bermarga Munthe.Ini merupakan suatu fakta yang patut dipertimbangkan dalam memutuskan apakah memang Purba Girsang di Silimakuta dan Dolog Batu Nanggar itu dari keturunan nenek moyang yang samakah atau berbeda?

Penutup
    Penulis memang sadar kalau tulisan ini akan menimbulkan kontroversial di kalangan etnis Simalungun, khususya di kalangan marga Girsang dan Purba Simalungun. Tetapi mengingat falsafah etnik Simalungun "Habonaron do Bona" ini layak untuk dituntaskan oleh pengetua adat Simalungun. Jangan sampai akibat pengakuan marga Girsang ini menyebabkan kegalauan di kalangan generasi muda Simalungun.
    Dan kalau memang Girsang tetap ngotot tidak mengakui dirinya bercabang dari marga induk Purba Simalungun, agar kelar dan tidak menimbulkan kesimpang siuran di tengah-tengah masyarakat, alangkah bijaknya, apabila hal ini dibahas dengan melibatkan para sejarawan, apakah benar "Girsang bukan cabang dari marga Purba?" Kalau memang benar, sepantasnyalah diumumkan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas, sehingga perkawinan antara marga Purba dengan Girsang bukan lagi sesuatu hal yang terlarang menurut adat Simalungun. Karena yang dilarang menurut adat adalah "mardawan begu" atau saling kawin mawin dengan pasangan yang semarga. Sehingga kedudukan marga Girsang di Simalungun jelas, dan para kaum muda yang ingin mencari pasangan hidupnya juga tidak ragu-ragu. Semoga bermanfaat. 
Penulis adalah seorang pendeta GKPS bermarga Purba
tinggal di Tepian Danau Toba Tongging-Taneh Karo Simalem

Tarombo Marga Sipayung

    Tarombo Silahi Sabungan di Huta Silalahi , Pakpak–Dairi , mengurai bahwa Silahi Sabungan memiliki keturunan yang disebut “Siualu Turpuk“, yaitu : Lohoraja, Tungkirraja, Sondiraja, Butarraja, Dabaribaraja, Debangraja, Baturaja, Tambunraja. Sibagasan adalah anak dari Tungkirraja yang kemudian keturunannya memakai marga Situngkir. Keturunan Situngkir kemudian memakai marga lain sebagai marga keturunannya, yaitu : Sipangkar dan Sipayung.
    Pada perkembangannya, keturunan Sipayung di Silalahi, Pakpak-Dairi, kemudian menyebar ke Samosir, Simalungun dan Tanah Karo (Sumatera Timur). Secara goegrafis, huta Silalahi Pakpak Dairi memang berbatasan dengan Kerajaan Purba di Simalungun.
    Saya pernah membaca tulisan Kerajaan Purba Simalungun yang kemudian mengangkat marga Sipayung sebagai Panglima Goraha ( kepala pasukan kerajaan ) di kerajaan Purba karena kesaktiaanya. Sang Panglima kemudian dikawinkan dengan parboruon Kerajaan sehingga Sipayung menjadi Boru di Kerajaan Purba. Dari kisah ini kemudian kehadiran marga Sipayung di Kerajaan Purba diakui dan dianggap sebagai bagian dari Kerajaaan.
    Kisah lain dari Simalungun, marga Sipayung kemudian mengikat perjanjian (padan) dengan marga Sinaga. Sehingga antara marga Sinaga dan Sipayung merupakan satu kesatuan dan diharamkan untuk saling kawin-mengawini ( sampai sekarang ini, perjanjian ini masih berlaku dibeberapa daerah di Simalungun Kahean).
    Dengan demikian , sejak kesepakan perjanjian itu, keberadaan marga Sipayung di Simalungun tidak dipermasalahkan lagi oleh marga-marga di Simalungun. Keturunan Sipayung telah diterima Simalungun. Bahkan di daerah Raya Kahean, didapati sebuah perkampungan yang disebut Huta Payung, dimana kampung tersebut hanya dihuni (mayoritas) marga Sipayung. Meski secara tarikh tidak ada fakta yang jelas sejak kapan keberadaan marga Sipayung bermukim disana, yang jelas marga Sipayung sejak lama sudah eksis di Simalungun. Itu sebabnya, marga Sipayung saat ini juga masih banyak didapati sebagai tetua-tetua (sesepuh) kampung ataupun adat di Simalungun.
    Pada masa eksodusan marga-marga dari Tapanuli dan Karo di Simalungun, sehingga mengakibatkan pengambilalihan tanah-tanah rakyat Simalungun oleh para pendatang dan hal ini sudah dianggap sangat membahayakan masyarakat Simalungun waktu itu. Maka Raja Maropat di Simalungun (yaitu Raja : Raya, Siantar, Tanohjawa dan Purba) mengadakan Harungguan (rapat besar empat raja) yang kemudian mengeluarkan ultimatum : “hanya ada empat marga yang boleh memiliki tanah-tanah di Simalungun”, sedangkan marga-marga lain ( selain : Damanik, Purba, Saragih, Sinaga ) hanya sebagai pemakai atau pengusaha dan harus tunduk dengat aturan-aturan kerajaan Simalungun. Kondisi ini sempat mengakibatkan situasi yang mencekam di Simalungun , karena banyak terjadi pengusiran bahkan pembunuhan suku-suku pendatang di Simalungun.
    Kondisi ini sangat berbeda dengan marga pendatang seperti Sipayung, karena marga Sipayung jauh sebelumnnya telah diterima dan memiliki perjanjian darah dengan marga Sinaga. Alhasil, banyak marga-marga keturunan Silahi Sabungan , seperti marga: Sihaloho, Situngkir, Silalahi dan lain-lain , kemudian mengakuisisi Sipayung dengan mengganti marga mereka menjadi Sipayung. Itu sebabnya kemudian di Simalungun menjadi suatu kebiasaan , jika seseorang bertanya ; “Sipayung apa?” , kemudian dijawab : “ Sipayung Silalahi, Sipayung Sihaloho, Sipayung Sinurat , dan sebagainya”.
Demikian halnya di Tanah Karo, keturunan Silahi Sabungan kemudian berafiliasi dengan marga Sembiring. Sehingga kemudian ada sebutan marga : Sembiring Sinulaki, Sembiring Keloko, Sembiring Sinupayung, dan sebagainya.
    Bahkan lebih jauh, setelah ikatan perjanjian darah antara Sipayung dan Sinaga, banyak kemudian terjadi pertukaran marga karena umumnya beranggapan bahwa marga mereka adalah sama. Marga Sipayung kemudian mengganti marganya dengan Sinaga dan sebaliknya.
Pasca Revolusi Sosial di Simalugun (Maret 1946), dimana penguasa di Simalungun (Raja, Tuan) dan kerajaan-kerajaan di Simalungun dibumi hanguskan oleh para pemberontak (revolusioner) pro kemerdekaan yang menuntut sistem kerajaan (feodalisme) dihapuskan di Sumatera Timur dan segera menjadikan sistem pemerintahan Negara Sumatera Timur. Hanya dalam waktu semalam, kebiadaban itu terjadi. Beberapa kerajaan dan keluarga kerjaaan ,  Raja dan Tuan-tuan di Simalungun lenyap diculik dan dibunuh.
    Pasca revolusi sosial, kemudian marga-marga pendatang yang sempat berafiliasi dengan marga-marga Simalungun kemudian memisahkan diri lagi dan kembali kepada klan marga-marga aslinya. Demikian halnya dengan marga-marga Sihaloho, Situngkir, Sinurat. Namun tidak sedikit pula yang tetap mempertahankan marga Sipayung sebagai marga keturunannya dan sampai sekarang ini keberadaan Sipayung di Simalungun sudah tidak ada bedanya sebagaimana keberadaan marga Damanik, Purba, Saragih dan Sinaga di Simalungun.
    Oleh karena itu , bukan hal yang aneh jika saat ini ada marga Sipayung yang menyebutkan bahwa mereka adalah Sipayung Sihaloho, Sinurat, Situngkir, Silalahi atau sebagainya.
Karena kelamnya masa lalu tersebut, sehingga marga-marga ini harus mengganti marga mereka. Meski pada dasarnya mereka adalah satu keturunan, dari Silahi Sabungan.
    Hanya saat ini , masih banyak marga-marga Sipayung belum begitu jelas akan kisah ini sehingga belakangan ini keturunan Sipayung banyak yang kemudian enggan menerima keberadaan mereka di parsadaan Silahi Sabungan karena memang mereka telah dilahirkan oleh Simalungun dan menjadi bagian dari darah-daging Simalungun.
Horas, Diateitupa, Mauliate.
Ditulis oleh Hoga Sipayung

Sumber : http://phidelissinurat.blogdetik.com/2011/07/27/tarombo-marga-sipayung/ 

Lihat Juga Link :

1. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sejarah-simalungun.html 
2. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun.html 
3. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun_18.html
4. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/siapakah-yang-disebut-sebagai-orang.html
5. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/05/kerajaan-purba.html
6. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/09/musik-tradisional-simalungun.html
7. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/marga-marga-simalungun.html
8. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-purba.html
9. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/sinaga.html
10. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/damanik.html
11. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-sipayung.html
12. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/identitas-simalungun-dari-persaudaraan.html
13. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/tarombo-marga-sipayung.html
14. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/benarkah-marga-girsang-bukan-cabang.html
15. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun.html
16. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/04/patunggung-simalungun.html 

"Identitas Simalungun: Dari Persaudaraan Marga ke Ikatan Rasa?"

Oleh MARTIN LUKITO SINAGA

Sin Raya sin Purba, sin Dolog sin Panei,
Naija pe lang mahua, asal ma marholong atei
(Dari Raya dari Purba, dari Dolog dari Panei,
Siapa saja tak berbeda, asal mau mengasihi)


     Jansen Pardede dalam disertasinya di Universitas Mainz, Jerman, Die Batakchristen auf Nordsumatra und ihr Verhaeltnis zu den Muslimen,1975, mencatat bahwa marga adalah inti (religiositas) Batak. Menurut beliau, marga menunjukkan asal muasal teritorial seseorang, juga genealogi ataupun ikatan darah dan silsisah keluarganya. Dalam ikatan marga tadi terbentuk suatu ritual, semisal dalam upacara pendirian tugu marga-marga. Bahkan, dalam ikatan marga, orang Batak juga bersumpah setia atau bersumpah serapah. Dalam jalur marga-marga pulalah penurunalihan cerita dan hukum adat terjadi. Bahkan, kedudukan sosial (dahulu) dan adat (sekarang) seseorang tergantung kepada marga yang ia emban.


     Dulu dengan bermarga Sinaga saja, seseorang sudah akan bisa bertahan hidupnya sebab ia bisa minta dukungan ekonomi dari dongan sabutuhanya sesama Sinaga dan bisa minta pelayanan ini-itu dari borunya yang beristrikan marga Sinaga. Kini dalam pesta adat, seorang Batak langsung menemukan tempat duduknya seturut dengan posisi marganya dalam skema Tungku nan Tiga (Dalihan na Tolu, di Simalungun skema itu bahkan disebut Tolu Sahundulan ‘Tiga Sekedudukan’), suatu kerangka kerja yang biasa dipakai di setiap pesta Batak.


     Di Simalungun sendiri pernah disinggung (semisal dalam catatan J. Tideman, Simaloengoen: Het Land der Timoer-Bataks in zijn vroegere en zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied can de Oostkust van Sumatra, Leiden, 1922) bahwa ikatan marga yang menyatukannya ialah Sisadapur: Sinaga, Saragih, Damanik, Purba, dan Girsang. Lalu dalam perkembangannya, marga-marga semisal Silalahi, Sipayung, Sitopu, Lingga, Haloho pun diikutsertakan. Yang menarik, dalam perkembangan mutakhir, identitas Simalungun semakin diletakkan pada ahap Simalungun. Dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1964 disimpulkan bahwa halak Simalungun aima na marahap Simalungun ‘orang Simalungun ialah siapa saja yang punya ahap Simalungun’.


Ahap Simalungun


     Apa artinya kalau ahap (rasa) menjadi pengikat Simalungun? Tampaknya catatan antropolog Clifford Geertz, dalam bukunya yang tersohor, The Interpreation of Culture, 1973, bisa sedikit membantu. Geertz mencatat bahwa bagi orang Jawa, tatanan simbolik amat penting. Pementasan wayang, misalnya, adalah penyajian cerita yang penuh dengan makna tersirat dan penonton selama berjam-jam harus menangkap makna seturut dengan pencerapan dirinya sendiri. Keramaian perang para kesatria dan kekonyolan para punakawan adalah simbol yang menunjuk ke dalam dunia batin manusia, dan masing-masing orang Jawa harus menemukan siapa dirinya setelah menonton wayang itu. Yang di luar (yang kasar dan konyol) sesungguhnya perlu ditangkap dan dipahami dari yang batiniah (yang halus dan yang di dalam) agar pesan dapat ditangkap. Di sini tentu saja perlu rasa.


     Rasa, demikian lanjut Geertz, berdimensi dua: perasaan (feeling) dan makna (meaning). Sebagai perasaan, rasa adalah salah satu dari pancaindra orang Jawa, yaitu melihat, mendengar, berbicara, membaui, dan merasakan. Namun, orang Jawa menjadikan “rasa” sebagai porosnya: citarasa sebuah pisang adalah rasa-nya, suatu firasat adalah suatu rasa, kesakitan adalah suatu rasa, dan hasrat adalah juga sebentuk rasa. Sebagai makna, rasa diterapkan pada kata-kata dalam suatu surat, bahkan juga dalam suatu percakapan; makanya orang Jawa bisa bicara lama tanpa perlu mengeksplisitkan maksudnya sebab yang perlu ialah merasakan pesannya. Gerak tubuh pun dapat dirasakan pesannya, tak perlu terang-terangan melotot atau mengepal tangan kalau sedang marah.


     Ahap Simalungun tentu tak perlu persis seperti rasa dalam diri orang Jawa walau ada singgungannya. Ahap Simalungun pertama-tama adalah sinyal-sinyal emosi yang tertangkap di setiap percakapan ataupun perjumpaan. Seorang Simalungun akan mudah merasakan apakah lawan bicara punya rasa Simalungun dari cara bertuturnya dan dari gerak-geriknya. Selalu ada yang tidak langsung di setiap kata yang terucap, dan setengah mati rasanya bagi orang Simalungun untuk menaruh tanda seru di akhir kalimatnya. Setengah mati pula orang Simalungun dalam mengungkapkan diri dalam gesture tubuhnya. Percakapan Simalungun ialah percakapan yang memohon dengan halus, bukan menyuruh dengan tegas. Ada kehalusan yang kompleks dalam bertuturnya, ada pula pengendapan yang bertakik-takik dalam batinnya. Ekspresi tubuh orang Simalungun adalah ekspresi yang selalu mau menutup apa yang sempat terungkap. Hampir-hampir ia tidak beringsut dari duduknya. Dalam peribahasa Simalungun dikatakan bahwa setiap orang Simalungun punya tujuh lapis pakaian, sekalipun ia tampak bertelanjang dada.


     Ahap juga adalah sebentuk penghayatan (mangkagoluhkan ‘menghidupi’) serat-serat kultur Simalungun, yang prinsipnya ialah Habonaron do Bona, Sapangambei menoktok hitei. Artinya kurang lebih: Pangkal hidup ialah bersikap benar dan adil, sambil bersama-sama membangun jembatan. Setiap orang akan menjadi Simalungun kalau ia punya prinsip tadi, namun diterapkan tidak dalam semangat eksklusif, tetapi inklusif sebab yang terpenting ialah selalu ada penghubung yang terbangun antara satu orang dengan yang lain.


Partuha Maujana Simalungun


     Suasana ahap ini mewarnai pertemuan bersama komunitas pemangku adat dan para tua-tua nan bijak Simalungun (Partuha Maujana Simalungun). Pada 12 Agustus 2007 lalu, berkumpullah puluhan warga Simalungun dan merancang sekaligus meneguhkan Program Kerja Partuha Maujana Simalungun 2005-2010 (yang diusulkan oleh Ketua Darwan Madja Purba dan Sekjen Syamsudin Manan Sinaga). Dan rupanya, yang dikerjakan terkait dengan jatidiri Simalungun.


     Pada pertemuan itu ditegaskan bahwa jatidiri Simalungun berarti “kita” yang ber-ahap Simalungun, bukan lagi “kami” yang bermarga Sisadapur. Maka, kalau kini Partuha Maujana Simalungun hendak menyusun program kerja, maka ia pun bersuasana terbuka dan tidak parokial.


     Tampaklah identitas baru: karena kesimalungunan tidak terutama terletak pada marga-marga, namun dalam ahap, maka selanjutnya–ini yang rupanya menjadi langkah lanjutan yang penting—karsa (program kerja) haruslah pula menjadi bagian jatidirinya.


     Barangkali makna etnisitas (juga makna Kebatakan) tergambar di sini, bukan tentang yang surut di belakang, bukan tentang yang beku dan primordial, tetapi tentang kebersamaan yang terbuka dan, akhirnya, tentang strategi kerja di hadapan keseharian hidup kita semua.

sumber: http://tondangmargana.blogspot.com/2012/03/identitas-simalungun-dari-persaudaraan.html


Lihat Juga Link :

1. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sejarah-simalungun.html 
2. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun.html 
3. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/sambungan-sejarah-simalungun_18.html
4. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2009/11/siapakah-yang-disebut-sebagai-orang.html
5. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/05/kerajaan-purba.html
6. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2011/09/musik-tradisional-simalungun.html
7. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/marga-marga-simalungun.html
8. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-purba.html
9. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/sinaga.html
10. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/damanik.html
11. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/asal-usul-marga-sipayung.html
12. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/identitas-simalungun-dari-persaudaraan.html
13. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/tarombo-marga-sipayung.html
14. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/benarkah-marga-girsang-bukan-cabang.html
15. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/03/revolusi-sosial-berdarah-di-simalungun.html
16. http://garamasilimakuta.blogspot.com/2012/04/patunggung-simalungun.html